× Home Daftar Isi Tentang Blog Contact Us
Menu

Humanesian

Economic and Accountant

Showing posts with label Manajemen Keuangan. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Keuangan. Show all posts
Deviden: Penjelasan dan Pengaruhnya bagi perusahaan

Deviden: Penjelasan dan Pengaruhnya bagi perusahaan

Ayo Komentar

Apa Itu Dividen ?

Pengertian dividen adalah bagian laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya pada perusahaan.

Kita semua tahu bahwa salah satu tujuan perusahaan adalah untuk menghasilkan laba.

Dan deviden adalah laba yang dibagikan kepada pemilik perusahaan. Simpel bukan ?

Dari sudut pandang investor atau pemegang saham, deviden adalah sumber pendapatan mereka selain capital gain.

deviden
Pembagian Deviden

Apakah laba wajib dibagikan ?

Tidak.

Laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan tidak harus dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden.

Pembagian dividen ditentukan oleh dewan direksi perusahaan yang kemudian akan disetujui oleh rapat umum pemegang saham (RUPS)

Ketika perusahaan memutuskan untuk tidak membagikan dividen, untuk apa laba yang dihasilkan tersebut ?

Laba tersebut akan dijadikan laba ditahan.

Laba akan digunakan kembali oleh perusahaan untuk mendanai kegiatannya.

Untuk diinvestasikan kembali.
ABP-862 https://verystream.com/stream/P2XCcgCbZKU
Biasanya laba yang ditahan akan digunakan kembali untuk membiayai:
  • Kegiatan operasional
  • Ekspansi atau pengembangan usaha
  • Membayar utang  

Kebijakan Dividen

Ketika perusahaan berhasil memperoleh laba.

Muncul pertanyaan...

Apakah laba akan dibagikan dalam bentuk dividen ataukah ditahan untuk digunakan kembali?

Mana yang lebih baik?

deviden
faktor dividen
Hal hal yang perlu dipertimbangkan

Sebelum membagikan dividen, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen. Diantarnya:

#1. Kebutuhan dana untuk membayar utang dan bunganya.

Ketika perusahaan memiliki utang jangka panjang dan akan segera jatuh tempo.

Sebaiknya manajemen mengurungkan niatnya terlebih dahulu untuk membagikan dividen.

Laba sebaiknya ditahan untuk melunasi utang dan bunganya yang segera jatuh tempo supaya bisa terhindar dari risiko gagal bayar dan dipailitkan oleh kreditur.

#2. Kestabilan laba

Apabila perusahaan mampu menghasilkan laba yang cenderung stabil disetiap periode, dewan direksi perusahaan bisa memutuskan untuk membagikan dividen.

Namun apabila perusahaan tidak mampu menghasilkan laba dengan konsisten, maka sebaiknya manajemen perusahaan bermain aman untuk tidak membagikan dividen.

Ketidakstabilan pembagian dividen pada setiap periode bisa berdampak buruk terhadap harga saham perusahaan.

Investor tidak ada yang menyukai ketidakpastian dan ketidak-konsistenan.

#3. Kemampuan berhutang

Perusahaan yang memiliki kemampuan berutang yang besar kemungkinan bisa membagikan dividen yang tinggi.

Apabila perusahaan memerlukan dana dan jika pendanaan tersebut bisa diusahakan dengan meminjam utang, maka perusahaan bisa membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.

Laba ditahan tidak diperlukan lagi untuk dijadikan sumber dana perusahaan.

#4. Likuiditas perusahaan

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek menggunakan aktiva lancar.

Semakin likuid, maka semakin besar kemungkinan perusahaan bisa membagikan dividen.

Jika likuiditasnya rendah, sebaiknya manajemen tidak membagikan dividen karena ada risiko perusahaan tidak mampu membayar utang jangka pendeknya.

Kewajiban jangka pendek biasanya berupa utang terhadap supplier atau utang bank dengan nominal yang tidak terlalu besar.

Walaupun nominalnya tidak terlalu besar, namun jatuh temponya sangat cepat.

#5. Tingkat Ekspansi Aktiva

Pertumbuhan perusahaan membuat kebutuhan perusahaan terhadap aktiva semakin tinggi.

Semakin tinggi kebutuhan aktiva, maka semakin kecil peluang dividen dibagikan karena laba akan digunakan untuk mengadakan aktiva perusahaan yang dibutuhkan.

Prosedur Pembayaran Dividen

Secara umum, pembagian dividen terdiri dari 5 prosedur.

#1. Declaratin Date (Tanggal Deklarasi)

Tanggal deklarasi adalah tanggal dimana dewan direksi perusahaan mengumumkan akan membagikan dividen kepada para pemegang saham dan jumlah nominal yang akan dibagikan.

Biasanya pengumuman dilakukan bertepatan dengan rapat umum pemegang saham (RUPS)

#2. Holder of Record Date (Tanggal Pencatatan)

Tanggal pencatatan adalah tanggal dimana perusahaan akan mencatat para pemegang saham yang berhak menerima dividen yang akan dibagikan.

#3. Cum-Dividend

Cum dividend adalah hari terakhir investor bisa melakukan jual beli saham perusahaan yang masih mengandung hak mendapatkan dividen.

Apabila investor memiliki saham perusahaan pada tanggal cum dividen, maka investor tersebut berhak atas dividen yang dibagikan.

#4. Ex-Dividend Date (Tanggap pemisahan dividen)

Ex dividen date adalah tanggal dimana pembeli saham pada tanggal ini tidak akan mendapatkan bagian dividen yang dibagikan.

#5. Payment Date (Tanggal Pembayaran)

Payment date adalah tanggal pembayaran dividen yang dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan nominal yang telah ditentukan.

Apa dividen bisa berpengaruh terhadap harga saham ?

Bisa iya bisa juga tidak.

Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa dividen bisa berpengaruh terhadap harga saham dan ada yang berpendapat sebaliknya.

# Sinyal Dividen

Dividen bisa saja berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.

Menurut Battacharya dalam teori hipotesis sinyal dividen yang ia ciptakan, pengumuman pembagian dividen adalah sinyal dari perusahaan bahwa perusahaan berkinerja baik yang mampu menghasilkan laba dan bisa dibagikan kepada pemegang saham.

Dalam banyak kasus, ada beberapa perusahaan yang tidak mau untuk tidak membagikan atau sekedar memotong jumlah dividen yang akan dibagikan.

Perusahaan percaya bahwa dengan memangkas deviden, investor akan menilai bahwa perusahaan sedang berada pada kondisi yang tidak bagus. Tidak memenuhi target yang diharapkan.

Kondisi ini membuat investor kurang yakin dengan prospek perusahaan dimasa depan dan memutuskan untuk tidak lagi berinvestasi di perusahaan tersebut.

Mereka akan menjual saham yang dimilikinya.

Hasilnya, harga saham akan turun.

Begitu juga sabaliknya.....

Apabila perusahaan membagikan atau bahkan menambah jumlah dividen.

Investor akan menilai bahwa perusahaan berkinerja dengan baik.

Melebihih expektasi yang diharapkan dan memiliki prospek yang cerah.

Harga sahampun akan mengalami kenaikan.

# Dividen Tidak Relevan

Ada juga yang berpendapat bahwa dividen tidak akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.

Menurut Mogdiliani dan Miller yang mencetuskan teori dividen tidak relevan menyatakan bahwa nilai perusahaan tidak akan dipengaruhi oleh pembagian dividen perusahaan.

Menurutnnya, nilai perusahaan hanya di pengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam mencari laba. Bukan pembagian dividennya.

Jadi, apakah dividen mempengaruhi harga saham ?

Hal ini kembali kepada preferensi dan pandangan subjektif investor sendiri terhadap pembagian dividen.

Jenis Jenis Dividen

Deviden yang dibagikan kepada pemegang saham bukan hanya berupa uang tunai.

Walaupun uang tunai adalah dividen yang paling sering digunakan, ternyata dividen juga bisa dibayarkan dengan bentuk lain.

Setidaknya ada 5 macam dividen, antara lain:

# 1. Dividen Tunai

Sesuai dengan namanya, dividen tunai dibagikan dalam bentuk uang kas.

Mungkin inilah jenis dividen yang paling banyak digunakan oleh perusahaan karena paling mudah dan paling disenangi oleh pemegang saham. 

# 2. Dividen Saham

Sesuai dengan namanya, deviden saham adalah deviden yang dibayarkan menggunakan saham.

Dividen saham biasanya dilakukan oleh perusahaan ketika perusahaan kekurangan kas untuk membagikan dividen.

Misalnya, ketika penjualan meningkat namun lebih banyak penjualan secara kredit sehingga menghasilkan piutang yang banyak dan kas yang minim.

Kondisi ini menjadi alasan perusahaan untuk membagikan dividen dengan saham. 

Dan dengan tambahan saham baru ini, jumlah saham para pemegang saham akan bertambah.

# 3. Dividen Properti

Dividen properti adalah pembagian laba dalam bentuk barang atau aset perusahaan.

Jadi perusahaan tidak akan mengeluarkan uang kas atau saham baru.

Properti yang dibagikan akan dinilai berdasarkan nilai pasar properti yang bersangkutan.

Perhitungan deviden jenis ini lebih sulit daripada dividen saham dan dividen tunai.

Oleh karena itu, dividen properti sangat jarang sekali diaplikasikan oleh perusahaan.

# 4. Dividen Skrip

Dividen skrip adalah dividen dalam bentuk surat utang.

Pemegang saham akan menerima surat utang perusahaan.

Maksudnya begini...

Surat janji utang dalam dividen skrip menyatakan bahwa perusahaan berhutang kepada pemegang saham dan akan membayarkan pada waktu dan jumah tertentu sesuai dengan isi dari surat utang tersebut.

Jadi ketika membagikan dividen, perusahaan tidak akan mengeluarkan apapun untuk dibayarkan kepada pemegang saham.

Perusahaan akan membayarkan dividennya dilain waktu.

Biasanya...

Dividen skrip ini disertai dengan bunga.

Jadi ketika waktu pembayaran telah tiba, perusahaan akan membayarkan dividen plus bunganya.

Alasan perusahaan menggunakan dividen skrip biasanya karena kekurangan uang kas atau uang kas yang tersedia akan digunakan terlebih dulu oleh perusahaan.

# 5. Dividen Likuidasi

Likuidasi adalah  kebangkrutan.

Ketika sebuah perusahaan membagikan dividen likuidasi, itu artinya perusahaan telah mengembalikan modal para pemegang saham karena perusahaan bangkrut.

Perusahaan telah dipailitkan oleh pengadilan.

Tetapi, ketika perusahaan sedang bangkrut, perusahaan tidak bisa serta merta membagikan dividen likuidasi.

Dividen likuidasi baru bisa dilakukan apabila masih ada sisa kekayaan perusahaan setelah bankrut.

Ketika bangkrut, semua aset perusahaan digunakan untuk pembayaran utang dan kewajiban perusahaan yang belum terpenuhi.

Dan jika ada sisanya, maka perusahaan bisa membagikan dividen likuidasi kepada pemegang saham.

Namun apabila tidak tersisa, maka pemegang saham tidak akan mendapatkan aset apapun.

Menghitung Dividen

Ada beberapa hal yang harus diketahui untuk bisa menghitung dividen yang dibagikan oleh perusahaan, antara lain:
  1. Laba bersih
  2. Dividend payout ratio [DPR]*
  3. Jumlah saham yang beredar.
Notes:
*DPR adalah rasio dividen yang akan dibagikan terhadap laba bersih perusahaan.

Contohnya:

Perusahaan Nivia Rotan pada tahun berjalan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1.000.000. PT Nivia Rotan memiliki 10.000 lembar saham yang beredar.

PT Nivia Rotan memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 30 % dari laba bersih. Sisanya akan digunakan kembali untuk ekspansi perusahaan.

Dengan data tersebut, kita bisa menghitung besaran deviden perlembar saham yang akan diterima oleh pemegang saham.

menghitung dividen
Setelah nominal dividen diketahui, kita bisa menghitung besaran dividen perlembar saham yang diterima oleh pemegang saham
menghitung deviden

Jadi setiap lembar saham akan mendapatkan bagian dividen sebesar IDR 30 

# Tambahan: Perlakuan Akuntansinya

Pencatatan pembagian dividen dimulai sejak dividen diumumkan oleh perusahaan. 

Diatas telah dijelaskan bahwa tanggal pengumuman pembagian dividen tidak sama dengan tanggal pembayaran dividen.

Jadi penjurnalan terhadap dividen akan dicatat sebanyak 2 kali. 

Yaitu ketika dividen diumumkan dan dividen dibayarkan.


Notes:
* Ketika pengumuman: artinya perusahaan akan berjanji akan membayarkan dividen. Maka perusahaan artinya telah berhutang dividen kepada pemegang saham yang diambilkan dari laba ditahan. Utang dividen diakui karena dividen belum dibayarkan.

* Ketika pembayaran: Perusahaan telah melunasi utang dividennya (mendebit utang dividen) dengan mengeluarkan uang tunai (menkredit kas)

Penutup

Mana yang lebih baik....

Dividen besar atau kecil ?

Dari sisi perusahaan.

Sebenarnya baik tidaknya tergantung pada kebutuhan perusahaan itu sendiri.

Perusahaan yang sedang membutuhkan dana untuk pengembangan usaha atau sekedar melunasi hutang tentu ingin dividen yang dibagikan kecil bahkan kalau perlu tidak membagikan dividen.

Sedangkan bagi perusahaan yang sudah "well established". sudah dalam top performance, kinerjanya sudah stabil cenderung membagikan dividen dengan nominal yang besar.

Dari sudut pandang investor, investor cenderung ada dua tipe.

Tipe pertama adalah investor jangka pendek.

Investor jangka pendek ini umumnya mengharapkan dividen yang besar.

Menginginkan keuntungan dividen yang maksimal karena belum tentu diperiode yang akan datang masih menjadi pemegang saham.

Mereka mudah sekali memperjual belikan sahamnya.

Sedangkan investor jangka panjang umumnya tidak keberatan  jika dividen yang dibagikan sangat kecil bahkan tidak dibagikan sekalipun selama perusahaan bisa memanfaatkannya untuk pengembangan usaha perusahaan.

Read more »
TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

Ayo Komentar
Teori Kebijakan Dividen - Dividend Policy atau kebijakan dividen adalah keputusan perusahaan yang berhubungan dengan pembayaran dividen oleh perusahaan. Apakah laba yang dihasilkan dibagikan kepada pemegang saham atau ditahan untuk kebutuhan pengembangan perusahaan diperiode mendatang.

Setidaknya ada 5 teori kebijakan dividen (teori tentang preferensi pemegang saham mengenai dividen) sebagai berikut :
    teori kebijakan dividen
    5 teori kebijakan dividen

    1. Teori Dividen Tidak Relevan [Irrelevancy Theory]

    Teori dividen tidak relevan ini ditemukan oleh Modigliani and Miller [MM].

    Menurutnya, nilai sebuah perusahaan ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (Earning Before Interest and Tax) dan kelas resiko perusahaan.

    Nilai perusahaan TIDAK DITENTUKAN oleh persentase laba yang dibagikan kepada pemilik saham dalam bentuk dividen.

    Jadi teori dividen tidak relevan menyatakan bahwa pembayaran dividen TIDAK BERPENGARUH terhadap harga saham atau nilai perusahaan. Tidak relevan.

    Nilai perusahaan hanya bisa dipengaruhi oleh bagaimana cara perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki agar menghasilkan laba yang diinginkan dan mengelola resiko-resiko bisnis yang ada.

    # Asumsi Teori Tidak Relevan

    Modigliani dan Miller menyusun teori ini berdasarkan beberapa asumsi berikut :
    1. Pasar modal sempurna. semua investor bersifat rasional. 
    2. Tidak ada investor besar yang bisa membuat harga saham bisa terpengaruh
    3. Tidak ada biaya emisi dalam penerbitan saham baru perusahaan
    4. Tidak ada pajak penghasilan perusahaan atau pajak perseorangan
    5. Kebijakan investasi sebuah perusahaan tidak akan berubah
    6. Pemegang saham tidak peduli apakah kemakmuran meningkat karena capital gain atau karena dividen.
    7. Manajer perusahaan dan pemegang saham mempunyai infomasi yang sama mengenai investasi perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga tidak ada biaya untuk mendapatkan informasi.
    Teori tidak relevan dari MM ini banyak dikritik oleh banyak ahli.

    Para ahli menentang karena banyak asumsi-asumsi yang dipakai dalam teori dividen tidak relevan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Seperti :
    1. Tidak ada pasar modal yang sempurna. 
    2. Banyak investor besar yang bisa menjual atau membeli saham dalam skala yang masif yang bisa mempengaruhi harga saham perusahaan
    3. Terdapat sejumlah biaya emisi seperti biaya penerbitan saham baru, biaya broker atau biaya transfer yang berhubungan dengan sekuritas perusahaan.
    4. Pajak penghasilan atau pajak perseorangan hampir selalu ada disetiap negara
    5. Kebijakan investasi perusahaan bisa berubah ditengah perjalanan menyesuaikan dengan kondisi yang ada
    6. Pemegang saham tentu sangat concern dan peduli dengan darimana pendapatan yang akan dia peroleh, dari dividen atau capital gain. Ini juga berhubungan dengan strategi dari masing-masing investor. Tidak semua investor suka dengan capital gain, ada investor yang lebih suka pembagian dividen yang tinggi. Begitu juga sebaliknya.
    7. Manajer dan investor belum tentu memiliki informasi yang sama tentang perusahaan. Manajer umumnya mengetahui informasi lebih rinci dan detail sehingga timbul asimetri informasi. 
    HONE-241 https://verystream.com/stream/iG1aUWHuSGk

    2. Teori Dividen yang Relevan [The Bird in the Hand]

    Teori dividen yang relevan atau yang lebih dikenal dengan istilah the bird in the hand ditemukan oleh Gordon and Lintner.

    Pernah mendengar istilah the bird in the hand atau burung ditangan sebelumnya ?
             *ps: yang cowok dilarang berfikir negatif ya :)
    Satu burung ditangan lebih berharga daripada seribu burung yang ada diudara. Itulah yang ingin disampaikan oleh teori ini.

    Burung ditangan yang dimaksud adalah dividen, dan seribu burung yang ada diudara adalah capital gain.

    Ya, teori ini lebih banyak berbicara mengenai return investasi saham yang bisa berupa dividen dan capital gain.

    Yang dimaksud capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga jual saham yang lebih tinggi daripada harga beli saham.

    Teori ini menyatakan bahwa dividen lebih memiliki kepastian daripada "seribu" capital gain diudara.

    Dividen lebih bisa diprediksi.

    Sedangkan capital gain dinilai cenderung didapat dari hasil spekulasi karena harga saham tiap saat bisa berubah.

    Pada teori ini investor lebih menyukai mendapatkan dividen.

    Karena dinilai lebih memiliki kepastian dari capital gain.

    Dividen memiliki resiko yang lebih kecil.

    Manajemen dapat mengontrol dividen namun tidak bisa mengontrol/mendikte harga saham dipasar.

    Investor tidak menyukai capital gain karena ketidakpastian yang lebih tinggi.

    Dengan mengharapkan capital gain, nilai saham naik turun. Berfluktuatif.

    Bisa dengan mudah menghasilkan.

    Juga bisa dengan mudah mendapatkan kerugian.

    Investor belum tentu bisa menangkap seribu atau bahkan satu burungpun diudara.

    Teori ini dianut dan disukai oleh tipe long tern investor.

    Loyal dan cenderung setia kepada satu perusahaan dengan prinsip pembayaran dividen adalah komitmen perusahaan terhadap pemegang saham yang setia. Investor menyukainya karena bisa meningkatkan kemakmurannya.

    Mungkin akan muncul pertanyaan...

    Bagaimana jika satu burung yang ada ditangan yang diharapkan dan diyakini sangat berharga tersebut ternyata mengecewakan ?

    Bagaimana jika saham yang dipilih ternyata tidak memberikan dividen seperti yang diharapkan ? Bagaimana jika ternyata perusahaan mengalami kerugian ?

    Apabila perusahaan mengalami kerugian, maka bukan hanya investor yang mengharapkan dividen yang kecewa.

    Investor yang mengharapkan capital gain pun juga mengalami kerugian yang sama.

    Harga jual kembali saham akan jatuh, bukan capital gain yang didapat, melain kan capital loss (kerugian harga jual saham lebih rendah dari harga beli saham).

    Kelebihan teori bird in the hand adalah apabila perusahaan membayarkan dividen lebih tinggi, maka nilai perusahaan akan semakin tinggi. Harga saham semakin naik.

    Kelemahannya, apabila dividen yang dibayarkan tinggi, investor akan dikenakan pajak yang tinggi juga.

    Ya memang semakin besar pendapatan maka semakin tinggi juga pajak yang harus dibayarkan. Hal yang normal sebenarnya.

    # Penentang Teori Bird in the Hand

    Modigliani and Miller [MM] pencetus teori dividen tidak relevan menjadi penentang teori ini.

    Hal ini jelas karena dalam teori konsep MM, teori bird in the hand adalah kebalikan dari teori dividen tidak relevan yang mereka ciptakan. 

    Dalam teorinya MM menyatakan dividen tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Sangat bertentangan dengan teori bird in the hand yang menganggap dividen sangat berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Bahkan MM menyebut teori ini dengan istilah "The Bird in the Hand Fallacy". 

    MM mengklaim telah melakukan studi bahwa pemegang saham tidak peduli apakah return yang didapatkan berupa dividen saat ini atau mendapatkan capital gain dimasa depan.

    MM menambahkan pada akhirnya pemegang saham akan kembali menggunakan dividen yang diterima dengan menginvestasikan kembali pada perusahaan yang sama atau paling tidak mempunyai risiko yang hampir sama.

    Kenaikan dividen tidak bisa mereduksi resiko perusahaan. Karena akan ada kemungkinan adanya pendanaan perusahaan yang nanti dipenuhi dengan mengeluarkan saham baru.

    Maka pembayaran dividen hanya akan memindahkan atau membagi risiko dari pemegang saham yang lama kepada pemegang saham yang baru.

    Pada beberapa kasus, tingkat risiko arus kas perusahaan hanya bisa ditentukan oleh bagaimana cara perusahaan beroperasi.

    Bukan pada kebijakan pembayaran dividen.

    3. Teori Perbedaan Pajak [Tax Differential Theory]

    Teori perbedaan pajak ditemukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy.

    Umumnya, tarif pajak terhadap return investasi yang berupa capital gain atau dividen adalah berbeda.

    Tarif pajak capital gain biasanya lebih rendah dari tarif pajak dividen.

    Adanya perbedaan tarif pajak tersebut yang membuat teori ini ada.

    Teori ini menyatakan investor lebih suka menerima capital gain daripada dividen karena capital gain memiliki tarif pajak yang lebih rendah daripada tarif pajak dividen.

    Atau kalaupun perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen, investor lebih senang dividen yang dibagikan tidak terlalu tinggi.

    Paling tidak ada 3 alasan mengapa investor lebih memilih capital gain daripada dividen, atau menyukai dividen yang tidak terlalu tinggi.
    • Pertumbuhan laba perusahaan dinilai bisa menaikkan harga saham dan keuntungan modal dengan tarif pajak yang rendah akan bisa mengganti dividen yang tarif pajaknya lebih tinggi.
    • Menunda pembayaran pajak. Pajak terhadap keuntungan yang diperoleh tidak dibayarkan hingga saham tersebut terjual. Apabila dihubungankan dengan nilai waktu dari uang, uang pajak yang dibayarkan dimasa depan memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan pajak yang dibayarkan pada saat ini.
    • Apabila ada saham yang dimiliki oleh seorang investor hingga investor tersebut meninggal dunia. Maka tidak ada sama sekali pajak yang harus dibayar dari keuntungan yang diterima. Ahli waris saham tersebut terhindar dari kewajiban membayar pajak.
    Melihat keuntungan-keuntungan yang dikaitkan dengan pajak tersebut, pemegang saham lebih menyukai manajemen perusahaan menahan laba dan menggunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan dana perusahaan dari pada dibagikan dalam bentuk dividen.

    Namun apabila dividen dikenai tarif pajak yang relatif rendah. Mungkin saja pemegang saham lebih menginginkan dividen yang tinggi.

    4. Teori Hipotesis Sinyal Dividen [Dividend Signaling Hypothesis]

    Teori hipotesis sinyal dividen dikemukakan pertama kali oleh Bhattacharya [1979].

    Pengumuman pembayaran dividen oleh manajemen perusahaan adalah SINYAL bagi investor.

    Sinyal tentang apa?

    Manajemen seolah ingin menunjukkan bahwa perusahaan bisa menghasilkan laba yang diinginkan.

    Manajemen ingin menunjukkan bahwa mereka mampu untuk memenuhi pembayaran dividen kepada pemegang saham.

    Manajemen seolah memberikan sinyal bahwa kondisi keuangan perusahaan sangat kuat sehingga mampu membagikan dividen.

    Perusahaan yang tidak memiliki kondisi kekuangan yang sehat tentu tidak akan sanggup memberikan dividen kepada pemegang saham.

    Informasi tentang kondisi keuangan yang sehat menandakan bahwa perusahaan memiliki prospek yang sangat cerah dimasa yang akan datang.

    Menurut teori ini, dividen adalah salah satu cara mengurangi asimetri informasi atau ketidak-seimbangan informasi antara manajemen dan pemegang saham.

    Manajemen tentu lebih mengetahui detail kondisi perusahaan dan prospeknya dibandingkan pemegang saham.

    Maka dividen kemudian menjadi alat ukur bagi investor untuk menilai kinerja keuangan dan prospeknya dimasa mendatang

    Secara tidak langsung. Teori ini menunjukkan bahwa investor lebih menyukai dividen daripada mendapatkan capital gain.

    Maka pada teori ini, pembayaran dividen akan meningkatkan nilai perusahaan. Menaikkan harga saham perusahaan.

    Semakin tinggi pembayaran dividen, semakin tinggi nilai saham, respon pasar akan semakin bagus.

    Begitu juga sebaliknya, apabila perusahaan menurunkan dividen yang dibagikan dibawah kenaikan yang normal seperti biasanya, maka respon pasar akan negatif.

    Investor seolah membaca sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa-masa yang sulit dimasa yang akan datang.

    # Pendapat Lain Tentang Teori Hipotesis Sinyal Dividen

    Modigliani and Miller [MM] meragukan teori ini bahwa perubahan harga saham setelah adanya pembayaran dividen adalah reaksi investor yang lebih menyukai dividen dibanding laba ditahan.

    Menurutnya investor hanya melihat adanya kandungan infomasi bahwa manajemen perusahaan mampu mengelola aset-aset perusahaan yang ada hingga berhasil memperoleh laba.

    Investor tidak melihat besar kecil dividen yang dibayarkan. Melainkan melihat informasi yang bisa menyebabkan harga saham naik.

    Sebelum menyimpulkan, ada beberapa fakta tentang pembayaran dividen.
    1. Ada kenaikan harga saham. 
    2. Ada informasi yang diberikan
    Apakah kenaikan harga saham disebabkan informasi ? ataukah disebabkan oleh preferensi investor terhadap adanya dividen yang dibagikan ?

    Sejauh ini masih belum ada penelitian lebih lanjut dengan bukti empiris yang membuktikannya.

    5. Teori Efek Pelanggan [Clientele Effect Theory]

    Pelanggan disini maksudnya adalah pemegang saham. Dalam sebuah perusahaan yang sudah go public, sahamnya diperjualbelikan secara umum.

    Semua orang bisa membelinya. saham perusahaan akan dimiliki oleh banyak orang atau kelompok. 

    Teori efek pelanggan atau clientele effect theory menjelaskan bahwa terdapat clientele atau kelompok pemegang saham yang memiliki preferensi pandangan, kepentingan, dan tujuan yang berbeda dalam menyikapi kebijakan dividen perusahaan.

    Sebuah perusahaan dimiliki oleh bermacam-macam tipe investor.

    Ada investor yang menginginkan dividen.

    Ada pula yang tidak menginginkan dividen.

    Dua tipe yang bertolak belakang yang berada dalam satu perusahaan.

    Ada kelompok pemilik saham yang sedang membutuhkan dana pada saat itu. Umumnya mereka akan mengharapkan ada pembagian dividen dengan rasio yang tinggi.

    Ada juga kelompok sebaliknya yang pada saat tersebut tidak begitu memerlukan dana. Umumnya kelompok pemegang saham ini lebih menyukai perusahaan untuk tidak membagikan dividen. Pemegang saham ingin perusahaan menahan laba bersih perusahaan untuk perluasan usaha.

    Ada kelompok pemegang saham yang menginginkan capital gain karena pertimbangan perpajakan. Ada pula kelompok yang mengabaikan aspek pajak dan menginginkan pembagian dividen.

    Dengan adanya kelompok-kelompok ini, kebijakan dividen yang diambil akan menguntungkan pemegang saham kelompok tertentu, dan tidak menggembirakan bagi pemegang saham lainnya.

    Adanya kondisi seperti ini bisa jadi mendorong perusahaan untuk menarik investor-investor yang sejalan dengan kebijakan dividen perusahaan.

    Perusahaan yang memiliki kebijakan membagikan dividen yang tinggi cenderung berusaha menarik investor yang juga suka dengan pembagian dividen.

    Begitu juga sebaliknya, Perusahaan yang tidak membagikan dividen cenderung menarik investor yang tidak mengharapkan pembagian dividen.

    Melihat kondisi pasar yang memungkinkan pemegang saham bisa dengan mudah berpindah perusahaan.

    Perusahaan bisa mengganti kebijakan dividen sesuai yang diinginkan dan membiarkan para pemegang saham yang tidak menyukai keputusan tersebut menjual kepemilikan sahamnya ke investor yang lain yang menyukai kebijakan dividennya.

    Namun tentu saja pemegang saham tidak aka melepas sahamnya begitu saja.

    Ada beberapa hal yang akan mereka perhitungkan seperti adanya biaya-biaya yang harus dibayarkan.

    Seperti biaya pialang dan beban pajak misalnya.

    Dan bahkan ada kemungkinan kesulitan dalam mencari investor yang menyukai kebijakan dividen perusahaan yang baru.

    Salah satu referensi :
    Triawan D. [2012] Penggalian Potensi Pph atas Deviden sebagai Upaya Meningatkan Penerimaan Pajak di KPP Madya Semarang, Skripsi S1. Program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro.

    Read more »
    Keputusan Investasi

    Keputusan Investasi

    Ayo Komentar
    Pengertian keputusan investasi adalah kebijakan manajemen dalam menggunakan dana perusahaan yang ada pada sebuah aset yang diharapkan akan memberikan keuntungan dimasa yang akan datang.

    Proses pengambilan keputusan investasi modal umumnya juga sering disebut dengan Capital Budgeting. Capital budgeting merupakan proses perencanaan serta pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pengeluaran dana yang return atau masa kembalinya dalam waktu yang relatif panjang. Lebih dari satu tahun buku.
    Menurut Sutrisno [2007:121-122], sebuah perencanaan kebijakan investasi mempertimbangkan hal-hal seperti ini:
    • Dana perusahaan yang dikeluarkan akan terikat dalam jangka waktu yang panjang. Perusahaan harus menunggu dalam tempo yang panjang untuk mendapatkan dana tersebut kembali beserta return yang diinginkan.
    • Dana perusahaan yang dikeluarkan dalam investasi nominalnya sangat besar.
    • Keputusan investasi perusahaan mengharapkan keuntungan pada masa yang akan datang. Kesalahan perhitungan bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
    • Keputusan investasi akan berdampak jangka panjang bagi perusahaan. Kesalahan pengambilan keputusan akan berakibat buruk dalam jangka panjang. Tidak bisa diperbaiki tanpa munculnya kerugian yang sangat besar.
    Keputusan investasi yang seperti apa yang harus dijalankan ?
    [IPX-338] https://woof.tube/stream/W2m4mtWde5w
    Kebijakan Investasi yang diambil adalah investasi yang paling menguntungkan. Return yang didapat paling tinggi. Biaya yang paling murah. Waktu pengembalian yang paling cepat dan resiko yang seminimal mungkin.

    Untuk memperoleh return investasi yang paling menguntungkan, ada beberapa informasi dan hal-hal yang diperlukan dalam mengambil keputusan investasi perusahaan:
    1. Alternatif pilihan investasi
    2. Estimasi Arus kas (cashflow)
    3. Penilaian Investasi
    4. Penilaian kembali investasi yang diputuskan

    1. Alternatif Pilihan Investasi

    Jenis investasi yang bisa memberikan opsi alternatif dalam keputusan investasi ada beberapa macam, diantaranya :
    1. Penggantian Aktiva (replacement)
    2. Perluasan (expansion)
    3. Investasi yang tidak dapat diukur (non measurable profit investment)
    4. Investasi yang tidak menghasilkan laba

    # Investasi Penggantian Aktiva (Replacement Investment)

    Penggantian aktiva tetap perusahaan adalah mengganti aktiva perusahaan yang lama dengan yang aktiva baru. Contohnnya mesin dan peralatan. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan mengeluarkan investasi besar untuk mengganti aktivanya. 
    1. Aktiva yang lama sudah tidak sanggup memenuhi peningkatan kebutuhan produksi perusahaan.
    2. Aktiva yang lama dalam operasinya membutuhkan biaya yang tinggi. 
    3. Aktiva yang lama kondisinya sudah terlalu aus. Sering rusak sehingga aktiva tidak bisa beroperasi untuk sementara waktu karena perbaikan.
    4. Aktiva yang lama membutuhkan maintenance yang sering dengan biaya pemeliharaan yang tinggi.
    5. Kualitas atau output yang dihasilkan aktiva lama kurang bagus
    6. Kecepatan operasi aktiva lama tidak cukup cepat. Tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan produksi.
    Perkembangan teknologi yang menghadirkan aktiva sejenis yang lebih unggul dari aktiva perusahaan yang lama akan mendorong perusahaan untuk mengganti aktivanya.

    Aktiva yang sejenis yang mampu berproduksi lebih banyak, lebih cepat, output lebih bagus dengan biaya operasional yang hemat dan biaya perawatan yang minim.

    Penggantian aktiva bisa meningatkan kapasitas produksi perusahaan (baik kuantitas, kualitas) lebih efisien. Menekan biaya produksi sehingga laba perusahaan perusahaan akan meningkat.

    # Investasi Perluasan (Expansion Investment)

    Investasi perluasan adalah investasi yang bertujuan untuk menambah kapasitas produksi perusahaan jauh lebih besar daripada kapasitas sebelumnya. Pengeluaran investasi peluasan bisa berbentuk pembangunan pabrik baru, perluasan atau penambahan gudang, menambah jumlah mesin.

    # Investasi yang tidak bisa diukur labanya (Non-measurable profit investment)

    Sebenarnya investasi ini juga bertujuan utama mencari laba. Namun laba yang yang akan diperoleh oleh investasi ini sangat sulit untuk diukur dengan angka. Misalnya, pengeluaran biaya promosi yang masih untuk jangka panjang, investasi penelitian produk yang bisa memakan banyak biaya dalam waktu yang lama, pengembangan dan penambahan skil karyawan dengan mengadakan program pendidikan karyawan.

    Output investasi yang dilakukan seperti contoh tersebut sulit untuk diukur secara angka-angka. Investasi yang berhasil tentu akan meningkatkan pendapatan perusahaan, berapa angka-angka yang bisa diukur oleh investasi tersebut. Hampir tidak bisa diukur.

    # Investasi yang tidak menghasilkan laba (Non-profit Investment)

    Setiap investasi yang dilakukan perusahaan sudah tentu karena ingin mendapatkan keuntungan. Lho kok ada investasi yang tidak menghasilkan laba ?

    Investasi yang tidak menghasilkan keuntungan kadang harus dilakukan karena adanya paksaan, peraturan atau syarat kontrak yang disetujui perusahaan.

    Contohnya, Investasi pengelolaan air limbah produksi. Pembangunan dan pengelolaan air limbah tentu membutuhkan investasi yang besar tanpa adanya return yang akan didapat tetap harus dilakukan karena adanya peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Tidak melaksanakan maka akan ada sanksi oleh otoritas terkait yang bisa mengancam keberlangsungan hidup perusahaan.

    Umumnya, perusahaan memiliki beberapa usulan proyek investasi,, tidak hanya satu. Tapi karena adanya keterbatasan, perusahaan harus memilih salah satu atau beberapa diantaranya berdasarkan tingkat prioritas kebutuhan perusahaan.

    Terdapat paling tidak 2 jenis penganggaran usulan proyek investasi modal, yaitu:
    1. Proyek Independen (independent project)
    2. Proyek Saling Ekslusif (mutual exclusive project)

    # Proyek Independen (Independent Project)

    Proyek independen adalah investasi modal yang tidak berkaitan dengan proyek perusahaan yang lain. Adanya proyek atau investasi ini tidak akan mempengaruhi proyek atau investasi perusahaan yang lainnya. 

    Contohnya usulan proyek pembelian mesin boiler untuk produksi dan investasi pembangunan gedung kantor.

    Kedua jenis investasi tersebut tidak saling terkait.

    # Proyek Saling Ekslusif (Mutual Exclusive Project)

    Proyek saling eklusif merupakan investasi perusahaan yang saling berkaitan dengan investasi atau proyek perusahaan yang lain. Investasi ini akan menghalangi atau mengganggu proyek perusahaan yang lainnya. 

    Misalnya usulan investasi Container Crane otomatis perusahaan pelabuhan. Container crane otomatis akan berakibat dalam penggunaan container crane manual.

    Penggunaan container crane otomatis akan mengakibatkan container crane manual tidak dijalankan. Kecuali perusahaan memperluas dermaga lagi dan fasilitas pendukungnya sehingga yang manual bisa beroperasi lagi di titik lokasi yang berbeda.

    2. Estimasi Aliran Kas

    Salah satu informasi yang paling dibutuhkan dalam pengambilan keputusan investasi adalah estimasi aliran kas (cashflow). Estimasi arus kas investasi harus memperhatikan hal hal seperti berikut :
    1. Estimasi beban, pendapatan dan pengeluaran modal
    2. Estimasi perkiraan penyesuaian arus kas dengan tingkat inflasi dan pajak.
    Dan secara umum, ada 3 arus kas yang perlu diperhatikan :
    1. Initial Cashflow 
    2. Operatinal Cash flow
    3. Terminal Cash flow

    # Initial Cashflow (Aliran Kas Permulaan)

    Initial cashflow adalah pengeluaran kas yang dibutuhkan pertama kali ketika melakukan investasi. Misalnya ketika perusahaan memutuskan untuk investasi menambah mesin produksi, maka initial casflow yang dimaksud adalah harga perolehan pembelian mesin tersebut hingga mesin tersebut siap untuk dioperasionalkan. Mulai dari harga pembelian, biaya instalasi, biaya uji coba, pajak, balik nama dan yang lainnya.

    # Operational Cashflow (Aliran Kas Operasional)

    Operational cashflow adalah aliran kas keluar yang dibutuhkan selama investasi dijalankan. Estimasi arus kas operasional ini harus diestimasikan dengan tepat karena menyangkut perjalanan investasi yang bisa mempengaruhi hasil dari investasi.

    Misalkan, ketika sebuah perusahaan telah menetapkan keputusan investasi untuk membeli mesin baru, harga mesin baru yang dibayarkan adalah Initial cashflow (aliran kas permulaan) dan ketika mesin tersebut dioperasikan, mesin tersebut membutuhkan biaya operasional, mulai dari biaya bahan bakar, biaya operator, biaya maintenance dan perawatan. Dan bahkan juga biaya perbaikan.

    Biaya biaya tersebut tentu akan mengakibatkan adanya aliran kas keluar yang bisa mempengaruhi laba perusahaan. Biaya-biaya tersebut harus diestimasikan sedetail mungkin agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan keputusan investasi.

    # Terminal Cashflow (Aliran Kas Akhir Investasi)

    Terminal cashflow adalah aliran kas yang akan diterima oleh perusahaan diakhir periode investasi. Bisa juga dikatakan sebagai nilai sisa investasi yang telah berakhir.

    Katakanlah perusahaan menginvestasikan dalam bentuk mesin. Umur ekonomis mesin yang diestimasikan bisa beroperasi secara normal selama 20 tahun. Ketika telah berproduksi selama 20 tahun. Umumnya mesin tersebut masih ada nilainya. Masih ada harganya. Bahkan masih bisa berfungsi secara normal. Itulah terminal cashflow.

    Bahkan tidak bisa berfungsi dan mesin hancur sekalipun masih bisa dijual "kiloan". Masih ada nilainya. Nilai aliran kas terakhir ini harus diestimasikan dengan detail, termasuk juga adanya pengaruh penyusutan mesin karena mungkin saja bisa berpengaruh pada keputusan investasi. Walau dalam kenyataannya nilai sering diabaikan.

    3. Penilaian Investasi

    Penilaian investasi bertujuan untuk menilai usulan keputusan investasi yang seperti apa yang layak dijalankan. Yang memberi keuntungan yang paling maksimal dengan resiko paling minim yang bisa diperoleh perusashaan. 

    Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi penilaian keputusan investasi. Seperti estimasi jumlah investasi, estimasi waktu pengembalian investasi, estimasi arus kas, risiko investasi dan bagaimana dampak investasi tersebut terhadap laba bersih perusahaan.

    Ada terdapat 2 kategori metode penilaian investasi yang umum digunakan:
    1. Model Non-Diskonto
    2. Model Diskonto

    A. Model Non-Diskonto

    Model non-diskonto adalah metode penilaian yang tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.

    Metode non diskonto sendiri terdapat 2 pendekatan metode dalam perhitungannya:
    1. Payback period (PP)
    2. Tingkat pengembalian akuntansi (accounting rate of return/ARR)

    # Payback Period

    Analisa penilain investasi metode payback period merupakan metode untuk mengetahui jangka waktu pengembalian sebuah investasi. Seberapa cepat pengembalian dana investasi yang dikeluarkan akan kembali seperti awal seluruhnya.

    Dengan analisa metode payback period juga bisa diketahui berapa cepat waktu investasi bisa dikembalikan saat titik impas atau BEP (break even point)

    Lebih cepat waktu pengembalian investasi, maka risiko investasi semakin kecil dan investasi tersebut semakin layak untuk diambil atau dijalankan. Usulan investasi mana yang paling cepat pengembaliannya, itulah yang akan dipilih.

    # Average Rate of Return /ARR 

    Analisa metode penilaian investasi ARR menilai seberapa besar keuntungan atau laba perusahaan dibandingkan dengan rata-rata nilai dari investasi.

    Metode ARR mengukur dari tingkat laba perusahaan. Bukan arus kas investasi.

    Jika pada hasil perhitungan ARR lebih tinggi dari tingkat return yang diinginkan, maka investasi tersebut laya untuk diijalankan. Berlaku juga sebaliknya.

    B. Model Diskonto

    Model diskonto adalah metode penilaian yang secara tidak langsung memperhatikan nilai waktu dari uang dan melibatkan konsep diskonto arus kas investasi.

    Metode diskonto memiliki 2 pendekatan metode dalam perhitungannya:
    1. Net present value
    2. Internal rate of return

    # Net Present Value (NPV)

    Metode penilaian net present value (NPV) menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan kas return dimasa yang akan datang.

    Metode NPV memerlukan data tentang perkiraan biaya operasiona, pemeliharaan, biaya investasi dan estimasi keuntungan return dari investasi yang direncanakan.

    # Internal Rate of Returrn (IRR)

    Metode internal rate of return (IRR) menghitung tingkat suku bynga yang menyamakan nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang adri penerimaan arus kas dimasa yang akan datang.

    Untuk lebih jelas dan spesifik, bisa dibaca di : Metode Penilaian Investasi

    4. Penilaian Kembali Keputusan Investasi (Pasca Audit)

    Penilaian kembali keputusan investasi (pasca audit) merupakan langkah lanjutan setelah usulan keputusan investasi dipilih dan dijalankan. Pasca audit bertujuan untuk mengetahui kinerja dari sebuah investasi yang dijalankan. Sesuai dengan apa yang diinginkan atau tidak. Mengevaluasi investasi dan bila perlu mengusulkan adanya tindakan perbaikan. Atau bahkan menghentikan proyek.

    Pasca audit juga bisa menjadi indikator apakah informasi dan data-data yang digunakan untuk bahan pertimbangan dalam membuat keputusan investasi cukup akurat atau tidak.

    Dan pasca audit bisa memberikan feedback kepada manajer untuk memperbaiki pengambilan keputusan investasi dimasa yang akan datang.

    Read more »
    Dasar Dasar Keputusan Investasi

    Dasar Dasar Keputusan Investasi

    Ayo Komentar
    Dasar Keputusan Investasi - Apabila mendengar kata investasi, maka kata yang selalu mengiringi adalah kata return (keuntungan investasi) dan risk (risiko). Dua kata tersebut merupakan hal dasar dalam pengambilan keputusan investasi.

    Investasi merupakan sebuah upaya penempatan sejumlah dana untuk dikembangkan yang diharapkan akan mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang. Motivasi mengapa melakukan investasi sudah jelas, investor ingin mendapatkan return atau keuntungan dimasa depan.

    Menurut Tandelilin [2005] dasar dasar keputusan investasi bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain:
    1. Return (keuntungan)
    2. Risk (resiko)
    3. The Time Factor (faktor waktu)

    1. Return

    Mengapa orang melakukan investasi ?

    Tentu saja karena ingin mendapatkan keuntungan. Apabila sebuah investasi diperkirakan tidak menguntungkan. Maka tidak akan ada orang yang mau berinvestasi.

    Return adalah tingkat keuntungan yang diperoleh dari sebuah investasi. Return yang diinginkan dari sebuah investasi harus dibandingkan dengan kompensasi terhadap biaya peluang (opportunity cost) yang hilang dan resiko adanya perubahan nilai karena inflasi.

    Biaya peluang maksudnya adalah kesempatan mendapatkan keuntungan yang hilang karena telah memilih satu dari beberapa jenis investasi yang ada. Misalkan perusahaan memiliki kas sebesar Rp 1 Milliar. Ada opsi uang tersebut diinvestasikan kedalam deposito, saham, obligasi ataupun properti.

    Instrumen investasi yang mana yang memberikan keuntungan paling banyak dalam tempo yang sama?
    [IPX-323] https://woof.tube/stream/WqcpL3CrKxD
    Umumnya, sumber return investasi biasanya berupa Yield dan Capital Gain.

    • Yield

    Yield adalah pendapatan yang diperoleh oleh investor secara rutin (periodik).

    Misalnya, perusahaan yang berinvestasi pada obligasi, maka yield-nya adalah pembayaran bunga atau kupon obligasi yang akan diterima dalam 3 bulan atau 6 bulan sekali bahkan 1 tahun sekali.

    Atau jika berinvestasi dalam instrumen saham, maka yield-nya berupa deviden yang diperoleh 1 tahun sekali. Tergantung pada kebijakan deviden perusahaan.

    • Capital Gain

    Capital Gain adalah naik turunnya nilai investasi. Umumnya instrumen investasi sekuritas. Contohnya harga saham. Ketika saham dibeli dengan harga X perlembar. Dan kemudian saham tersebut dijual dengan harga diatas harga X. Maka ada selisih yang akan menjadi keuntungan investor. Namun juga sebaliknya, apabila dijual dibawah harga X, maka investor akan mengalami kerugian.

    Dalam kontek keputusan investasi, perlu dibedakan antara keuntungan yang telah terealisasi (realized return) dengan keuntungan yang diharapkan (expected return).

    1.a. Realized Return (keuntungan yang telah terealisasi)

    Realized return atau return yang terealisasi adalah return yang telah terjadi. Keuntungan yang telah diperoleh investor dimasa lalu, diperiode sebelumnya.

    Perhitungan realized return menggunakan data historis masa lalu. Realized return dipakai untuk menjadi salah satu alat ukur kinerja dari sebuah investasi perusahaan.

    Return ini bisa dijadikan sebagai dasar untuk menentukan tingkat expected return dan resiko sebuah investasi yang akan datang.

    1.b. Expected Return (ekspektasi keuntungan)

    Expected return atau ekspektasi keuntungan adalah keuntungan yang diharapkan akan didapatkan oleh investor dari sebuah investasi yang dilakukan. Expected return adalah harapan. Keuntungan belum diperoleh. Belum terjadi.

    Tingkat keuntungan yang diinginkan ini bisa dipengaruhi oleh sejauh mana prospek investasi perusahaan di waktu yang akan datang.

    2. Risk (Resiko)

    Ketika berinvestasi selain mengharapkan return tertentu investor juga harus menanggung tingkat risiko.

    Dalam konteks manajemen investasi risiko merupakan penyimpangan/ perbedaan antara return yang diharapkan dengan return yang benar-benar diterima oleh investor (return aktual). Kenyataan yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Resiko merupakan sebuah konsekuensi yang sangat tidak menguntungkan dari sebuah investasi.

    Resiko investasi bisa menjadi sebuah kerugian. Semua instruman investasi pasti memiliki resiko. Baik itu resiko kecil atau resiko besar. Untuk itu dalam keputusan investasi, selain return, perhitungan resiko menjadi hal yang wajib dilakukan.

    Jadi, pentingnya memahami sebuah resiko dalam keputusan investasi adalah untuk bisa mengantisipasi dan menghindari atau sekedar meminimalkan kemungkinan kerugian yang bisa terjadi pada investasi yang dijalankan.

    Sudah menjadi idiom umum bahwa high risk high return. Setiap investasi yang menghasilkan return yang tinggi, maka semakin tinggi pula resikonya.

    Secara umum, resiko dalam konsep keputusan investasi bisa digolongkan menjadi dua resiko, Resiko sistematis dan resiko tidak sistematis. Apa itu resiko sistematis dan resiko tidak sistematis ?

    2. A. Systematic Risk (Resiko Sistematis)

    Resiko sistematis adalah resiko yang bersifat makro. Berhubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara keseluruhan dipasar secara umum. Memberikan dampak dihampir seluruh perusahaan yang ada di pasar. Resiko sistematis bisa berakibat pada return investasi yang bisa berubah-ubah.

    Resiko sistematis ini cenderung sulit untuk dihindari. Risiko sistematis ini biasanya berupa resiko suku bunga, resiko pasar, resiko finansial, risiko bisnis, resiko inflasi, resiko politik, resiko nilai tukar,resiko likuiditas.

    # A.1. Resiko Suku Bunga

    Resiko suku bunga adalah resiko yang muncul akibat adanya perubahan tingkat suku bunga rata-rata. Tingkat suku bunga tabungan dan tingkat suku bunga pinjaman, Umumnya resiko ini mempengaruhi instrumen investasi saham, obligasi (bunga mengambang), deposito bahkan properti.

    Misalkan, harga saham akan mengalami penurunan apabila tingkat suku bunga meningkat. Contohnya pada saham, jika suku bunga naik, maka nilai saham akan turun. Hal ini bisa terjadi karena return investasi yang berhubungan dengan suku bunga juga akan mengalami kenaikan, seperti deposito contohnya. Situsasi tersebut bisa membuat investor yang berinvestasi saham akan melepas sahamnya dan mengalihkan dananya kedalam deposito.

    # A.2. Resiko Pasar

    Resiko pasar adalah risiko yang berupa pengaruh transaksi pasar yang fluktuatif secara keseluruhan. Resiko ini bisa mempengaruhi return investasi menjadi berubah-ubah. Fluktuasi kondisi pasar ini bisa diakibatkan oleh kondisi seperti krisis ekonomi, perubahan kebijakan pemerintah, perubahan akibat adanya teknologi baru dan lain sebagainya.

    # A.3. Resiko Bisnis

    Resiko bisnis adalah resiko yang erat kaitannya dengan karakteristik dari sebuah jenis industri tertentu. Resiko ini bisa dipengaruhi oleh persaingan bisnis yang dihadapi makin ketat, harga produk yang tidak terkontrol dan lain sebagainya.

    Industri CPO misalnya, banyak perusahaan yang berinvestasi membuka lahan untuk ditanami sawit, makin banyak perusahaan yang bersaing menanam sawit, sehingga supplay melimpah yang bisa menyebabkan harga komoditas ini berfluktuasi dan anjlok dipasar dunia sehingga membaut industri komoditas ini menjadi kurang menguntungkan.

    # A.4. Resiko Inflasi

    Katakanlah sebuah instrumen investasi bisa menghasilkan return sebesar 5 persen selama 1 tahun, namun dalam 1 tahun tersebut terjadi inflasi sebesar 5 persen. Maka investasi tersebut bisa dibilang tidak menghasilkan apa-apa.

    Parahnya lagi seandainya tingkat inflasi ternyata diatas return investasi yang ditanamkan. Maka hasilnya adalah sebuah kerugian. oportunity cost (biaya peluang)-nya tinggi.

    Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum. Adanya inflasi membuat daya beli masyarakat berkurang. Berkurangnya daya beli membuat penjualan menurun yang akan menyebabkan pendapatan perusahaan menurun.

    # A.5. Resiko Nilai Tukar (Exchange Rate Risk/Currency Risk)

    Resiko nilai tukar adalah risiko yang muncul karena terjadi perubahan nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang dari negara lain. Perusahaan ekspor-impor mungkin paling terpengaruh. Resiko ini membuat return yang diterima menjadi lebih kecil nilainya dari return yang diharapkan.

    # A.6. Resiko Politik

    Resiko politik atau country risk adalah resiko yang berhubungan dengan kondisi politik negara, stabilitas ekonomi antar negara, dan bahkan kondisi tingkat keamanan.

    Kestabilan adalah kunci utama, semakin tidak stabil kondisi perpolitikan sebuah negara, semakin besar resiko untuk berinvestasi dinegara tersebut.

    Kebijakan tentang usaha rokok misalnya. Kenaikan cukai rokok, aturan pembatasan pemasaran  dan sosialisasi efek negatif rokok oleh negara mempengaruhi industri rokok. Hal tersebut bisa mengakibatkan pendapatan banyak industri rokok menurun. Dari hulu sampai hilir.

    2.B. Unsystematic Risk (Resiko non Sistematis)

    Resiko tidak sistematis merupakan resiko yang berkaitan dengan adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada perusahaan tertentu secara individual. Cakupan resikonya hanya pada kondisi mikro yang hanya pada return investasi terhadap perusahaan individual tertentu saja.

    Resiko tidak sistematis ini masih bisa dihindari. Resiko tidak sistematis ini contohnya resiko finansial, resiko likuiditas

    # B.1. Resiko Finansial

    Resiko finansial atau resiko keuangan berhubungan dengan struktur modal perusahaan yang digunakan dalam mendanai aktivitas perusahaan.

    Resiko finansial kemungkinan akan muncul apabila perusahaan mencari sumber dana dari pembayaaan utang. Baik berupa utang obligasi ataupun hipotek. Semakin besar utang dan bunga, maka semakin besar pula resiko gagal bayar yang membayangi.

    # B.2 .Resiko Likuiditas (Liquidity Risk)

    Liquidity risk adalah resiko yang berhubungan dengan tingkat kesulitan dalam mencairkan portofolio investasi atau menjual sahamnya kepihak lain karena sedikit atau tidak ada yang berminat untuk membeli sekuritas tersebut.

    Kecepatan sebuah sekuritas yang diperdagangkan dipasar sekunder merupakan indikator resiko ini. semakin cepat sebuah sekuritas terjual maka semakin kecil resikonya.

    Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Semakin cepat suatu sekuritas diperdagangkan, maka semakin likuid sekuritas tersebut. Resiko ini bisa juga didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek atau jatuh tempo dengan menggunakan aset yang ada.

    3. The Time Factor (Faktor Waktu)

    The time factor atau faktor waktu dalam berinvestasi sangat berpengaruh dalam menjalankan investasi. Ada beberapa alternatif jangka waktu dalam melakukan investasi. Jangka pendek, menengah atau jangka panjang.
    Jangka waktu investasi yang dipilih bisa berpengaruh pada perilaku investor terhadap kegiatan investasinya. Lama tidaknya investasi bisa mempengaruhi seberapa besar resiko investasi yang membayangi. 

    Waktu investasi juga mempertimbangkan seberapa cepat pengembalian atas investasi yang dikeluarkan kembali lagi seperti semula. Semakin cepat pengembalian dan returnnya, maka investasi tersebut semakin layak untuk dijalankan.

    Time value of money (nilai waktu dari uang) juga sangat diperhitungkan dalam pertimbangan keputusan investasi. Uang Rp 10 juta saat ini, nilainya belum tentu sama dengan Rp 10 juta 5 tahun yang akan datang. Inflasi.

    Tingkat inflasi memiliki keterkaitan yang erat dengan nilai waktu daripada uang. Tentu inflasi menjadi sangat diperhitungkan dalam keputusan investasi.

    Misalnya. Dulu, 15 tahun yang lalu uang Rp 1000 sudah bisa membeli Indomie goreng. Tapi saat ini dengan nominal yang sama tidak bisa membeli barang yang sama. Uang dengan nominal yang sama, belum tentu memiliki nilai yang sama pada masa yang akan datang.

    Hubungan Return dan Risk

    Aturan umum investasi : High risk high return dan juga sebaliknya low risk low return.

    Setuju tidak setuju memang begitulah kecenderungan umumnya,

    Return adalah motif utama mengapa seseorang investor melakukan investasi. Hal tersebut sangatlah wajar. Tetapi, Resiko. sebuah hal lain yang bertolak belakang dengan return, yang selalu mengikut alur investasi harus diperhitungkan. 

    Semakin tinggi resiko investasi, semakin tinggi juga tingkat pengembalian investasinya. Walaupun pada kenyataannya, semua investor berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan return investasi yang tinggi dengan resiko seminimal mungkin.

    Maka untuk itulah fungsi manajemen keuangan diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara risk dan return yang menjadi dasar dalam keputusan investasi,

    Referensi: http://asriyaqien.blogspot.co.id , pscychologymania.com

    Read more »
    Obligasi Tanpa Bunga Zero Coupon Bond

    Obligasi Tanpa Bunga Zero Coupon Bond

    Ayo Komentar
    Sebagai sebuah utang. Utang obligasi selalu disertai dengan bunga (kupon). Bunga itulah yang bisa menjadi penarik minat investor agar bersedia untuk membeli obligasi atau meminjamkan uangnya pada perusahaan.

    Terdapat beberapa jenis bunga yang bisa ditawarkan pada setiap obligasi. Mulai dari fixed rate (bunga tetap), floating rate (bunga mengambang) maupun kombinasi keduanya.

    Umumnya bunga obligasi akan dibayarkan dalam 3 bulan sekali, ada juga yang dibayarkan 6 bulan sekali bahkan 1 tahun sekali.
    Misalkan sebuah perusahaan menerbitkan obligasi dengan rentang waktu 5 tahun. Tingkat suku bunga tetap sebesar 10 persen selama 1 tahun pertama. Dan pada tahun berikutnya menggunakan bunga mengambang satu persen diatas bunga deposito bank.

    Maka pembeli obligasi tersebut akan memperoleh keuntungan bunga (return) sebesar 10 persen pada tahun pertama. Dan pada tahun berikutnya akan memperoleh return yang berubah-ubah menyesuaikan dengan besar kecilnya bunga deposito bank.

    Tetapi, pada kasus lain terdapat obligasi yang diterbitkan tanap adanya kupon bunga sama sekali.

    Perusahaan penerbit hanya membayarkan pokok utang obligasi ketika jatuh tempo. Obligasi jenis ini disebut dengan Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

    Pengertian Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

    Mungkin anda bertanya, mungkinkah sebuah utang obligasi tanpa bunga bisa laku terjual dipasaran?

    Apakah investor mau membeli obligasi yang tidak memberikan bunga sama sekali?

    Darimana investor akan mendapatkan hasil dari investasi obligasi seperti ini?

    Pertanyaan yang kerap muncul ketika pertama kali mendengar tentang obligasi tanpa bunga.

    Investor yang membeli obligasi tanpa bunga ini sampai obligasi jatuh tempo memang tidak akan pernah mendapatkan bunga dari penerbit obligasi. 

    Misalnya obligasi yang diterbitkan dalam rentang waktu jatuh tempo 15 tahun. Maka dana investor yang membeli obligasi tersebut akan mengendap selama 15 tahun diperusahaan penerbit. Kecuali investor tersebut menjual kembali obligasinya ke pasar sekunder.
    Corvus https://woof.tube/stream/PDMtF4i2giW
    Ketika obligasi sudah waktunya jatuh tempo, investor hanya akan mendapatkan uangnya kembali tanpa adanya bunga yang menyertainya. Darimana investor mendapatkan keuntungan ?

    Eits, jangan salah. Obligasi tanpa bunga ini bukannya tanpa keuntungan. Obligasi ini juga memberikan keuntungan bagi pemegang obligasi. Hanya saja tidak berupa bunga (kupon obligasi).

    Keuntungan membeli obligasi jenis ini adalah berupa uang cash yang nanti akan dibayar dikemudian hari. Keuntungan pemegang obligas terdapat pada selisih dari harga beli obligasi dengan harga jual obligasinya.

    Pada saat penerbitan, zero coupon bond ditawarkan dengan harga yang lebih rendah daripada nilai nominalnya. dengan kata lain. Harga awal obligasi ini mendapat diskon yang tinggi.

    Ketika awal membeli, calon investor akan membeli obligasi dengan harga diskon. Harga yang lebih rendah dari harga nominal obligasi. Dan ketika obligasi sudah jatuh tempo, maka investor akan mendapatkan pembayaran secara penuh.

              Baca juga Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Kerugiannya

    Ilustrasinya begini.

    Perusahaan PT X menerbitkan zero coupon bond dengan nominal sebesar Rp 1 Trilliun. Masa jangka waktu jatuh tempo obligasi selama 10 tahun. Obligasi ini akan dijual pada harga 70 persen,

    Dengan penawaran harga obligasi tersebut. Investor yang akan membeli obligasi PT X tidak perlu untuk membayar sebesar 1 trilliun. Tidak perlu 100 persen harga nominal obligasi.

    Misalnya investor ingin membeli obligasi PT X sebanyak 100 Miliar, maka investor tersebut hanya membayar 70 persen saja. Cukup membayar Rp 70 Miliar. Jika ingin membeli semuanya Rp 1 Trilliun maka cukup membayar Rp 700 Milliar saja. Tidak perlu membayar penuh sebanyak Rp 1 Trilliun.

    Walaupun investor tersebut hanya membayar sebesar Rp 700 Miliar. Namun ketika obligasi tersebut jatuh tempo 10 tahun kemudian. Investor tersebut akan menerima pembayaran penuh pokok obligasi sebesar Rp 1 Trilliun.

    Jadi selama 10 tahun tersebut. Uang investor akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 300 Miliar.

    Dari sudut pandang investor. Zero coupon bond ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang pengembalian investasinya (return of invesment) tidak bisa diperoleh dengan cepat. Apabila investor obliasi tersebut ingin segera menghasilkan, dan ingin dananya segera kembali, maka satu satunya jalan adalah menjual obligasi tersebut dipasar sekunder.

    Harga obligasi zero coupon bond umumnya akan naik dari waktu kewaktu hingga mendekati jatuh tempo obligasi. Disinilah area keuntungan yang bisa dinikmati oleh investor. Sedangkan bagi perusahaan penerbit obligasi, walaupun nominal obligasi yang ditawarkan mencapai Rp 1 Trilliun. Perusahaan hanya akan mendapatkan dana tunai sebesar Rp 700 Miliar saja.

    Itupun masih belum dipotong biaya biaya yang muncul dalam rangka penerbitan obligasi. Keleibihan bagi penerbit obligasi tanpa bunga adalah bahwa perusahaan penerbit tidak akan dibebankan bunga obligasi yang harus dibayar 3 atau 6 bulan sekali seperti obligasi pada umumnya.

    Perusahaan penerbit hanya akan memikirkan bagaimana caranya ketika obligasi sudah jatuh tempo 10 tahun yang akan datang. Dan harus ada uang tunai sebesar Rp 1 Trilliun untuk melunasi pokok utang obligasi tersebut.

    Semoga artikel ini bisa membantu anda. Terima kasih.
    Referensi : economy.okezone.com

    Read more »
    Pengertian Kebijakan Dividen

    Pengertian Kebijakan Dividen

    Ayo Komentar

    Pengertian Dividen

    Pengertian dividen adalah pembagian laba perusahaan yang diterima para pemegang saham sesuai dengan persentase kepemilikiannya yang berasal dari keuntungan dari hasil operasi perusahaan selama suatu periode.

    Dividen adalah BAGIAN keuntungan dari perusahaan yang diputuskan untuk dibagikan atau didistribusikan kepada para pemilik saham (common stock). Dalam banyak kasus, tidak semua keuntungan yang dihasilkan perusahaan dibagikan semua kedalam dividen.

    Ada sebagian sebagian yang akan digunakan kembali untuk membiayai kegiatan dan pengembangan usaha perusahaan. Ini disebut dengan Laba Ditahan (retained earning). Besar kecilnya tergantung pada kebijakan dividen dan hasil RUPS perusahaan.

    Dividen adalah hak dari pemegang saham. Dividen hanya akan diperoleh jika perusahaan menghasilkan cukup laba untuk dibagikan dan apabila direksi perusahaan menilai perusahaan sudah layak mengumumkan pembagian dividen.

    Apabila perusahaan telah memutuskan membagi laba, maka semua pemilik saham akan mendapatkan hak yang sama sesuai persentase kepemilikan sahamnya. Namun pembagian dividen pemilik saham jenis preferen akan lebih diprioritaskan dibandingkan pemilik saham biasa.

    Umumnnya macam-macam jenis dividen yang biasa dibagikan oleh perusahaan berbentuk seperti berikut :
    kebijakan dividen

    1. Dividen Kas (Cash Dividend)

    Pembayaran dividen dalam bentuk uang kas. Dibandingkan dengan jenis dividen lain, deviden kas lebih sering digunakan oleh perusahaan dan umumnya juga lebih disukai oleh para pemilik saham.

    2. Dividen Aktiva selain Kas (Property Dividend)

    Dividen yang dibagikan dalam bentuk barang atau aktiva selain kas. Dividen properti ini yang dibagikan adalah bagian dari aktiva yang tidak akan mengganggu keberlangsungan hidup bisnis perusahaan. Dan barangnya bisa dibagi rata kepada para pemegang saham.
    [ZUKO-060] https://woof.tube/stream/2eJywxELFFJ
    Pemilik saham akan menerima dengan nilai sebesar harga pasar dari aktiva yang dibagikan tersebut.

    3. Dividen Utang (Scrip Dividend)

    Dividen utang adalah janji tertulis untuk membayar jumlah deviden kas tertentu kepada pemilik saham dikemudian hari. Janji ini umumnya berupa surat promes. Deviden utang ini bisa terjadi apabila laba perusahaan mencukupi namun saldo kas perusahaan tidak cukup untuk membayarnya.

    4. Dividen Likuidasi (Liquidating Dividend)

    Dividen likuidasi adalah deviden yang muncul ketika manajemen direksi ingin melikuidasi usahanya dan mengembalikan seluruh aktiva bersih yang tersisa kepada pemilik saham dalam bentuk kas tunai.

    5. Dividen Saham (Stock Dividend)

    Dividen saham adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham yang pembagiannya sesuai dengan persentase kepemilikan saham. Tidak berbentuk uang kas tunai.

    Jumlah saham yang beredar akan meningkat namun kapitalisasi pasar besarnya tetap tidak berubah karena setiap penambahan saham baru diikuti dengan penurunan nilai saham. Sedikit banyak mirip dengan stock split atau pemecahan saham. Tujuannya untuk bisa mempertahankan tingkat modal perusahaan.

    Pengertian Kebijakan Dividen

    Pengertian kebijakan dividen adalah keputusan direksi apakah laba yang dihasilkan perusahaan pada akhir periode dibagikan kepada para pemilik saham (dividen) atau laba tersebut ditahan sebagai penambah modal perusahaan yang akan digunakan dalam kegiatan, atau investasi pengembangan perusahaan dimasa mendatang.

    Kebijakan dividen selalu berkaitan langsung dengan keputusan pendanaan perusahaan.

    Kebijakan dividen adalah salah satu fungsi manajemen keuangan yang berkaitan erat dengan struktur modal perusahaan.

    Jadi ketika dalam sebuah perusahaan berhasil mendapatkan keuntungan. Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan atas keuntungan yang diraih tersebut :
    1. Laba dibagikan kepada para pemegang saham (dividen)
    2. Laba digunakan kembali untuk kegiatan dan ekspansi usaha (laba ditahan)
    3. Laba dibagi antara dividen dan sebagian lagi digunakan untuk laba ditahan.
    Apabila manajemen perusahaan mengambil laba dibagikan sebagai dividen, maka sumber pendanaan internal akan berkurang. Laba ditahan berkurang.

    Demikian juga sebaliknya, apabila perusahaan memilih opsi untuk tidak membagikan deviden, maka dana internal perusahaan akan membesar.

    Laba ditahan adalah salah satu sumber pendanaan perusahaan yang sangat penting untuk digunakan dalam membiayai pertumbuhan perusahaan. Semakin besar laba ditahan, maka akan semakin kuat struktur modal dan posisi keuangan perusahaan.

    Semua langkah yang diambil dalam kebijakan dividen adalah bahwa setiap keputusan yang diambil harus tetap memperhatikan tujuan utama dari perusahaan, yaitu kesejahteraan pemilik perusahaan dan meningkatkan nilai dari perusahaan.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kepentingan para pemegang saham, kepentingan usaha perusahaan dan bahkan kepentingan masyarkat sekitar dan pemerintah.

    Tipe Kebijakan Dividen

    tipe kebijakan dividen

    #1. Kebijakan Dividen Stabil

    Jenis kebijakan dividen yang stabil adalah jumlah nominal dividen yang dibayarkan tetap disetiap periodenya.

    Nominal pembayaran dividen tidak akan naik dan turun. Stabil diangka yang sama.

    Alasan perusahaan yang melakukan kebijakan dividen stabil ini adalah untuk menciptakan kesan terhadap pemegang saham (investor) bahwa pembayaran dividen yang stabil mengindikasikan kinerja perusahaan juga stabil dari tahun ketahun.

    Walaupun perusahaan secara akuntansi mengalami kerugian, pemegang saham akan tetap menerima dividen dengan jumlah sama seperti tahun sebelumnya.

    #2. Kebijakan Dividen Rasio Tetap

    Maksud dari kebijakan dividen rasio yang tetap adalah bahwa dividen dibagikan berdasarkan rasio yang tetap disetiap periodenya.

    Besar kecil jumlah nominal dividen yang dibagikan tidak sama dari tahun ketahun. Tergantung pada laba yang dihasilkan.

    Misalnya, apabila perusahaan menetapkan dividen ratio sebesar 40 persen dari laba bersih yang dihasilkan.

    Maka setiap tahun, dividen yang dibagikan sebesar 40 persen dari laba bersih perusahaan. Setiap tahun, laba yang dihasilkan jumlahnya tentu berbeda beda. Kadang naik kadang turun.

    Maka jumlah nomina dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham akan berbeda beda setiap tahunnya yang diambilkan dari 40 persen dari laba yang dihasilkan.

    #3. Kebijakan Dividen Fleksibel

    Pada tipe kebijakan dividen ini, besar kecil dividen yang dibayarkan setiap tahunnya akan disesuaikan dengan kondisi finansial perusahaan.

    Setiap waktu perusahaan akan selalu mengalami perubahan, baik kondisi internal maupun eksternal. Untuk itu, dividen yang dibagikan akan mengikuti perkembangan kondisi perusahaan yang berbeda beda setiap tahunnya.

    Bahkan apabila kondisi keuangan perusahaan dirasa tidak memungkinkan, maka dividen tidak akan dibayarkan.

    #4. Kebijakan Dividen Residual

    Tipe kebijakan dividen residu adalah dividen dibayarkan hanya apabila ada laba yang tersisa setelah perusahaan melakukan investasi.

    Apabila laba yang diinvestasikan kembali tidak tersisa, maka tidak ada pembagian dividen.

    Jadi laba yang dihasilkan akan digunakan untuk investasi, baru setelah investasi dilakukan dan ternyata masih ada sisa laba, maka sisa tersebut dibagikan dalam bentuk dividen.

    Biasanya, tipe investor yang senang dengan kebijakan dividen residual ini adalah investor jangka panjang yang tidak mengharapkan dividen, namun lebih mengharapkan perkembangan perusahaan.

    #5. Kebijakan Dividen Rendah + Ekstra

    Maksudnya adalah Kebijakan dividen yang dibayarkan secara rutin disetiap periode dengan jumlah yang rendah.

    Ketika kondisi laba normal, dividen yang dibagikan akan tetap rendah.

    Namun walaupun ditetapkan rendah, ketika perusahaan berhasil meraih laba yang tinggi, perusahaan akan menambah "ekstra" dividen tersebut.

    Penambahan dividen ekstra ini biasanya akan direspon baik oleh pasar dan harga saham perusahaan mengalami kenaikan.

    Pengumuman Dividen 

    Pengumuman dividen adalah sebuah informasi yang sangat direspon pasar. Pengumuman laba dan pengumuman dividen sering digunakan manajer perusahaan untuk memberikan informasi bahwa perusahaan tersebut berprestasi dan mempunyai prospek yang cerah.

    Bahkan menurut pendapat Aharony dan Swary [1980] dalam Nurhidayati [2006] menyatakan bahwa informasi pengumuman dividen lebih bernilai daripada pengumuman informasi laba (earning) perusahaan.

    Ada anggapan bahwa dengan adanya pembayaran dividen yang besar ada kecenderungan nilai saham perusahaan akan meningkat. Hal ini adalah anggapan investor yang melihat bahwa perusahaan tersebut mampu untuk membagikan keuntungan.

    Namun pembayaran dividen yang besar juga berdampak pada kemampuan modal perusahaan untuk melakukan pengembangan usaha. Usaha yang tidak berkembang akan menyebabkan turunnya nilai saham perusahaan.

    Pada kondisi pasar modal yang sempurna. Penundaan membayar dividen kepada para pemilik saham yang bertujuan untuk melakukan pengembangan usaha dan investasi yang menguntungkan akan berdampak pada kenaikan nilai saham.

    Sepanjang perusahaan mempunyai rencana pengembangan dan investasi yang returnnya meyakinkan. Perusahaan akan menggunakan laba yang dihasilkan tersebut untuk mendanai rencananya.

    Apabila terdapat kelebihan laba yang digunakan, maka kelebihan laba tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham. Namun apabila tidak ada kelebihan laba maka tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham.

    Walaupun pada kenyataannya, ada sejumlah perusahaan yang membayar dividen dengan stabil dan cenderung menghindari pengurangan dividen yang dibayarkan. Hanya karena manajemen ingin memperlihatkan bahwa perusahaannya memiliki kemampuan menghasilkan laba yang besar dan memiliki prospek yang bagus yang mampu membayar deviden kepada para pemegang sahamnya.

    Read more »
    Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

    Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

    Ayo Komentar

    Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen ?

    Kebijakan dividen berhubungan dengan pertanyaan apakah dividen dibagikan atau tidak ?

    Jika dibagikan, berapa nominal dividen yang akan dibagikan?

    Kebijakan dividen perusahaan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Setidaknya ada 8 hal yang harus diperhatikan perusahaan sebelum menetapkan kebijakan dividennya. Ke-8 faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen antara lain:
    1. Posisi Likuiditas Perusahaan
    2. Kebutuhan Dana untuk Membayar Utang
    3. Tingkat Ekspansi Aktiva
    4. Stabilitas Laba
    5. Peraturan Hukum Perundang-undangan
    6. Pengendalian Perusahaan
    7. Pembatasan dalam Perjanjian Utang
    8. Kemampuan untuk Meminjam
    faktor kebijakan dividen
    Sumber gambar : iconfinder.com

    1. Posisi Likuiditas Perusahaan

    Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar.

    Posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan dividen. Semakin lancar likuiditas perusahaan, semakin besar juga kemampuan perusahaan untuk membagikan dividen.

    Ketika sebuah perusahaan tidak cukup likuid.

    Kas yang masuk sedikit. Dan utang jangka pendeknya harus segera dibayarkan.

    Dalam kondisi seperti itu....

    Apakah perusahaan harus membagikan dividen atau tidak ?    

    Apabila perusahaan membagikan dividen disaat keuangan tidak likuid, resiko gagal bayar hutang akan sangat tinggi.

    Perusahaan akan kesulitan membayar utang dan bahkan kesulitan dalam melakukan kegiatan operasinal seperti biasa.

    Hal Ini karena kondisi keuangan yang sudah tidak bagus, ditambah lagi harus membagikan keuntungan kepada para pemegang saham.
    Michael Fly https://woof.tube/stream/H4RcsEH6Ycw
    Umumnya, apabila perusahaan dalam kondisi seperti ini, perusahaan seharusnya memutuskan untuk tidak membagikan dividen dalam bentuk uang tunai. Terlebih apabila perusahaan tersebut sedang tumbuh berkembang dan membutuhkan suntikan dana untuk berinvestasi.

    Jadi, tingkat likuiditas perusahaan sangat berpengaruh terhadap kebijakan dividen perusahaan.

    2. Kebutuhan Dana untuk Membayar Utang

    Ketika perusahaan menghasilkan laba dan memiliki hutang jangka panjang yang akan jatuh dalam waktu dekat. Apa yang harus dilakukan dengan laba yang dihasilkan tersebut?

    Tentu ada banyak kemungkinan yang bisa dilakukan.

    Pertama...

    Perusahaan bisa melunasi utang tersebut menggunakan laba yang dihasilkan. Dan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham.

    Dan jika ada sisa laba dari pelunasan hutang, maka sisa tersebut bisa dibagikan kepada pemilik saham.

    Kedua...

    Perusahaan bisa tetap membagikan dividen tanpa harus memikirkan hutang yang akan segera jatuh tempo.

    Pelunasan hutang bisa menggunakan alternatif pendanaan lain dari luar perusahaan.

    Bisa penerbitan saham baru, melunasi utang dengan hutang baru (menerbitkan obligasi atau hipotik).

    Bahkan bila memungkinkan bisa mengkonversi utang tersebut menjadi saham. Tentunya dengan melalui proses yang panjang.

    Apapun yang ditempuh, laba ditahan mau dipakai untuk membayar utang atau dibagikan dengan dividen, akan memiliki konsekuensi masing masing.

    Yang jelas, apabila perusahaan memilih untuk memakai laba untuk pembayaran utang, maka akan berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen kepada pemegang saham akan semakin kecil.

    3. Tingkat Ekspansi Aktiva | Kebutuhan Dana Perusahaan

    Perusahaan yang sedang berkembang tentu membutuhkan tambahan sumber daya perusahaan. Salah satunya adalah aktiva perusahaan.

    Ketika permintaan semakin tinggi, namun tidak diimbangi dengan aktiva perusahaan yang terbatas, maka perusahaan tidak akan mampu memaksimalkan pendapatannya.

    Salah satu caranya adalah dengan melakukan perluasan usaha.

    Bangun pabrik baru, beli mesin baru, beli tanah baru dan lainnya. Artinya dengan menambah aktiva.

    Darimana pendanaan untuk menambah aktiva perusahaan ?

    Salah satunya adalah kebijakan dividen. Menggunakan laba ditahan.

    Semakin banyak dana yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha, untuk meningkatkan aktiva, maka semakin kecil peluang perusahaan untuk membagikan dividen.

    Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit kebutuhan pengembangan aktiva, maka semakin besar laba ditahan yang bisa dibayarkan dalam bentuk dividen.

    Namun apabila perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen lebih besar kepada pemegang saham, maka sisa laba ditahan yang bisa digunakan untuk pembiayaan pengembangan usaha akan semakin kecil.

    Ketika perusahaan sudah mencapai titik jenuh, dimana pertumbuhannya sudah bisa dikatakan berada pada titik puncak. kondisinya sudah well established, dan bahkan kebutuhannya bisa dipenuhi oleh sumber eksternal, pada umumnya perusahaan akan membayarkan dividen dengan rasio yang cenderung tinggi.

    4. Stabilitas Laba

    faktor kebijakan dividen
    stabilitas harga: faktor kebijakan divien | source

    Perusahaan yang menghasilkan laba yang stabil disetiap periode bisa dengan mudah memprediksi besar kecilnya laba yang akan dihasilkan diperiode yang akan datang.

    Perencanaan mengenai sumber dana dan penggunaannya jauh lebih terarah.

    Bisa terbaca dengan baik.

    Rencana pengembangan usaha, jadwal pembayaran utang, atau anggaran pengeluaran yang lainnya bisa disusun dengan mudah.

    Termasuk juga mengenai kebijakan dividen.

    Besar kecilnya dividen yang dibagikan cenderung stabil dan lebih tinggi.

    Apabila dibandingkan dengan perusahaan yang menghasilkan laba yang tidak stabil disetiap periodenya.

    Misalkan tahun lalu menghasilkan laba 150 persen dan tahun ini rugi 40 persen. Maka proses pengambilan keputusan terhadap hal apapun menyangkut masa depan perusahaan akan menjadi lebih sulit.

    Sulit diprediksi.

    Dan kebijakan dividen pun juga terkena imbasnya.

    Apakah dijadikan laba ditahan atau dibagikan kepemegang saham?

    Manajemen akan mengalami kesulitan dan cenderung untuk bermain aman.

    Pembagian dividen cenderung untuk dihindari. Jikapun dibagikan, biasanya dalam jumlah yang kecil.

    Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga atas kondisi perusahaan yang masih fluktuatif.

    Jadi, tingkat kestabilan laba yang dihasilkan akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan dividen perusahaan.

    5. Peraturan Hukum Perundang Undangan

    Peraturan hukum kebijakan dividen : source

    Peraturan perundang-undangan mengatakan dividen dibayarkan dari laba. Baik laba tahun periode berjalan ataupun laba bersih tahun lalu yang berada di pos laba ditahan.

    Perusahaan tidak serta merta langsung membagikan dividen sesuai keinginan.

    Ada mekanisme peraturan hukum yang membatasi kebijakan dividen perusahaan.

    Ada beberapa batasan hukum tentang dividen. Seperti :
    1. Peraturan tentang laba bersih. Dividen yang bisa dibayarkan berasal dari laba bersih periode berjalan atau periode tahun sebelumnya.
    2. Peraturan larangan pengurangan modal. Aturan ini bertujuan untuk melindungi kreditur (pemberi kredit pinjaman perusahaan) yang melarang adanya pembayaran dividen dengan mengurangi modal. Maksudnya membayarkan dividen dengan modal adalah membagi modal perusahaan. Bukan membagikan laba bersih perusahaan.
    3. Peraturan kepailitan. Aturan ini melarang perusahaan untuk membayarkan dividen ketika perusahaan dinyatakan pailit oleh pengadilan. Membagikan dividen ketika perusahaan dinyatakan pailit berarti membagikan aset perusahaan kepada pemegang saham. Yang pada kenyataanya adalah milik atau hak dari kreditur pemberi pinjaman perusahaan.

    6. Pengendalian Perusahaan

    Terdapat beberapa perusahaan yang memiliki kebijakan yang hanya mengguanakan dana yang berasal dari pendanaan internal saja untuk membiayai aktivitas, investasi atau pengembangan usaha perusahaan.

    Sumber dana hanya berasal dari LABA DITAHAN.

    Pemegang saham tidak mendapatkan pembayaran dividen. Dan sebagian dari mereka senang.

    Lho kok bisa ? Karena struktur modal perusahaan tidak berubah !

    Pemegang saham yang senang adalah pemegang saham mayoritas yang memiliki kendali penuh atas perusahaan. Memiliki suara terbanyak yang tidak ingin kehilangan kendali atas perusahaannya.

    Ketika sebuah perusahaan berencana untuk melakukan pengembangan usaha. Membutuhkan dana yang melimpah. Tapi tidak menggunakan laba ditahan, lebih memilih untuk membagikan dividen.

    Maka akan opsi perusahaan mendapatkan dana berasal dari eksternal perushaan. 

    Berhutang (menerbitkan obligasi atau hipotik) atau menerbitkan saham baru.

    Apabila perusahaan mengambil opsi menerbitkan saham baru. Maka jumlah saham yang beredar akan semakin bertambah.

    Struktur modal perusahaan akan berubah. 

    Dan yang ditakuti oleh pemegang saham mayoritas adalah adanya kemungkinan pemegang saham mayoritas tidak lagi menjadi mayoritas.

    Tidak lagi memiliki suara yang dominan dalam perusahaan karena adanya kepemilikan saham baru oleh orang lain.

    Persentase jumlah saham mereka akan berkurang dan ada kesempatan pemegang saham lain yang membeli saham baru tersebut menjadi pemegang saham mayoritas. Memiliki suara mayoritas. Dan memegang kendali atas perusahaan.

    Apabila manajemen perusahaan memperhatikan pengendalian. Manajemen mungkin akan enggan untuk menerbitkan saham baru dan akan menahan laba ditahan lebih banyak.

    Namun apabila pemegang saham menginginkan adanya pembagian dividen, dan terlebih adanya tekanan dari beberapa pemegang saham yang menginginkan adalah peralihan kekuasaan perusahaan, maka dividen yang dibagikan akan bertambah naik.

    Jadi, pengendalian perusahaan harus dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan dividen

    7. Pembatasan dalam Perjanjian Utang

    Pembatasan-pembatasan perjanjian utang ini biasanya disusun oleh kreditur perusahaan yang telah disetujui oleh perusahaan.

    Pembatasan ini disusun oleh kreditur agar perusahaan tetap mampu melunasi utang dan bunganya.

    Perjanjian utang, khususnya utang jangka panjang sering membatasi atau bahkan melarang perusahaan untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham.

    Perjanjian utang tersebut umumnya menyatakan :
    • Dividen tidak bisa dibayarkan jika modal bersih perusahaan berada dibawah jumlah atau titik yang sudah ditentukan.
    • Perusahaan hanya bisa membayar dividen dimasa mendatang dari laba yang diperoleh setelah perjanjian utang telah ditandatangani. Jadi dividen tidak boleh dibayar dari laba ditahan perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya
    Sebagai tambahan, umumnya kontrak utang juga sering berisi larangan pembagian dividen jika rasio kemampuan pembayaran bunga, rasio lancar dan rasio-rasio yang lain melewati batas-batas minimal yang telah ditetapkan.

    8. Kemampuan untuk Meminjam (Berhutang)

    Perusahaan yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam memperoleh dana pinjaman, umumnya memiliki kemampuan membayar dividen yang tinggi.

    Apabila perusahaan memutuskan untuk memenuhi segala pendanaan melalui utang, maka besar kecilnya dividen kas yang dibayarkan kepada pemegang saham tidak akan mempengaruhi tingkat llikuiditas perusahaan.

    Itulah 8 faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan. Semoga bermanfaat.

    Referensi: http://odytanpar.blogspot.co.id - http://mimieconomy.blogspot.co.id/
    Manurung Adler Haymans, [2012]. Teori Keuangan Perusahaan. Djakarta :PT Adler Manurung Press

    Read more »
    Older Posts Home
    Subscribe to: Posts (Atom)

    en-PO

    Loading...

    Kategori

    akuntansi ekonomi kewirausahaan manajemen pajak pkn politik sejarah seni budaya sosiologi

    Popular Posts

    • Soal Farmakognosi Lengkap Jawaban
      Latihan Soal Pilihan Ganda Materi Farmakognosi Beserta Jawaban Obat sariawan, obat batuk, antiseptic, obat kumur, menghentikan pendaraha...
    • Soal dan Kunci Jawaban Biologi tentang Virus dan Monera
      VIRUS dan MONERA I Jawablah pertanyaan ini dengan benar ! 1.        Gambarkan struktur  tubuh virus influenza dan sebutkan bagian-bagia...
    • Profesi Akuntan Pendidik itu Kerjanya apa?
      Akuntan Pendidik merupakan salah satu jenis dari bermacam macam profesi akuntansi dan akuntan pendidik ini termasuk profesi yang sangat vit...
    • Macam Macam Profesi yang Berhubungan dengan Akuntansi
      Profesi Akuntansi - Dulu, sewaktu saya masih SMP, ingin sekali rasanya saya menjadi seorang akuntan, walaupun waktu itu tidak tahu apa saja...
    • Soal Biologi tentang Sistem Peredaran Darah dan Kunci Jawaban
       ” SISTEM PEREDARAN DARAH 1 ” Isilah titik-titik di bawah ini dengan benar ! Komponen darah yang memiliki jumlah paling banyak adalah...
    • Soal Biologi tentang Struktur dan Fungsi Sel dan Kunci Jawabannya
         ” STRUKTUR DAN FUNGSI SEL 1”. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar ! 1.        Mengapa membran plasma dikatakan mempunyai...
    • Pencatatan Penghapusan Utang dalam Akuntansi
      Nilai Piutang yang tercatat pada neraca menurut pernyataan standar akuntansi keuangan indonesia adalah sebesar jumlah piutang yang jatuh t...
    Loading...

    Arsip Blog

    Ehcrodeh. Powered by Blogger.
    Copyright © Humanesian. Template by : Petunjuk Onlene